Di Amerika, Pemilik KTP Palsu Takut Emak daripada Polisi

Di Amerika, Pemilik KTP Palsu Takut Emak daripada Polisi

Ketika belanja di sebuah supermarket di Amerika Serikat, saya melihat bahwa setiap pembeli minuman keras harus menunjukkan ID atau SIM untuk memastikan usia pembeli. Hanya yang berusia 21 tahun ke atas yang boleh beli minuman beralkohol. Inilah diantara sebab kenapa ada KTP palsu.

Pernah saya melihat seorang kasir mencurigai seorang pembeli. Mungkin usia di KTP atau SIM tak sesuai dengan wajah. Si Kasir kemudian minta nomor telphon orang tua si pembeli. Tanpa diduga, si calon pembeli tergesa gesa meninggalkan kasir. Rupanya dia “takut” ketahuan sama emaknya kalau mau mengkonsumsi minuman keras. Pemilik KTP palsu lebih takut dengan emaknya daripada polisi.

Mungkin cuma di Amerika Serikat kalau punya KTP palsu tidak dianggap sebagai “kejahatan.” Penjual atau pencetaknya bagaimana pula? Malah dianggap pembayar pajak yang harus “dilindungi.” Wow, betapa anehnya, mungkin kata anda, pembaca Kompasiana.

KTP di kita, sama dengan ID di Amerika Serikat. Selain ID yang dikeluarkan oleh DMV (Department of Motor Vehicle), semacam polisi lalu lintas di kita, SIM juga adalah ID. Kalau punya SIM, tak perlu harus punya KTP. SIM dianggap sekaligus KTP, tapi punya KTP tak berarti otomatis bisa dipakai sebagai SIM.

Kepimilikan KTP, tak diatur oleh UU Federal (pemerintah pusat), tapi berbeda dari satu “state” (negara bagian) ke “state” lainnya. Di Florida pemilik KTP palsu bisa dikenakan hukuman penjara selama 5 tahun dan denda sebanyak US$ 5 ribu (Rp65 juta). Di Louisiana tak masalah punya KTP palsu, tapi melanggar hukum bagi penjualnya. Sedangkan di Texas, pemilik KTP palsu melanggar hukum kalau menggunakannya, tapi penjual KTP palsu tak masalah, karena dianggap sebagai “souvenir.”

Masuk Kasino  

Kalau di kita, KTP palsu baiasanya dipakai untuk “menipu,” tapi di Amerika Serikat dipakai untuk berbagai hal. Untuk anak anak “bawah umur,”selain untuk beli minuman beralkohol atau rokok, dengan KTP palsu bisa masuk kasino atau bar. Tempat tempat ini hanya membolehkan orang dewasa usia di atas 21 tahun untuk masuk.

Mereka yang sudah tamat SMA, berusia 19 tahun dan bekerja 40 jam seminggu yang dikategorikan sebagai pekerjaan tetap, sehingga punya penghasilan rutin adalah kelompok yang “tergiur” untuk memiliki KTP dan SIM dengan identitas palsu. Uang punya, tapi tak boleh masuk kasino atau beli minuman keras atau beli rokok, akhirnya KTP palsu sebagai jalan keluar.

Untuk SIM, memang boleh memiliki yang asli ketika berusia 15 tahun, tapi harus didampingi atau disupevisi oleh orangtua sampai usia 17 tahun. Di beberapa “states,” hanya diperbolehkan mengendarai kendaraan sampai jam 12 malam kalau belum mencapai usia 21 tahun. Jadi, mengendarai kendaraan dari jam 24.00 tengah malam sampai pagi jam 6.00 dianggap melanggar hukum bagi mereka yang dibawah umur legal.

Beli Mobil Bekas Dan Senjata

Selain itu, mereka mereka yang “tak jelas” identitasnya atau mantan penjahat, memakai KTP palsu untuk beli mobil bekas, dan bahkan senjata api. Untuk dealers atau penjual senjata api skala kecil, mereka umumnya tak memiliki alat pengecek untuk menentukan keaslian KTP. Sehingga transaksi bisa mulus.

Apalagi penjual individu mobil bekas dan saat “gun show” atau bazaar senjata, biasanya pengecekan apakah KTP asli atau palsu agak longgar. Bisa gampang bagi yang punya identitas palsu untuk melakukan pembelian.

Cuma, ada beberapa dealers mobil dan penjual senjata api, terutama yang besar besar memiliki alat pengecek identitas. Ada dealer yang baik, kalau ketahuan KTP palsu, mereka hanya tak mau menjual dagangannya. Pemilik KTP palsu tak dilaporkan ke emaknya atau pihak berwajib.

Tapi, hati hati, ada pula dealer dan penjual senjata api yang segera melaporkan ke polisi, kalau ternyata calon pembeli memilili KTP palsu. Seandainya itu terjadi di Florida, bisa dihukum penjara sampai 5 tahun dan denda US$ 5 ribu. Habislah sudah riwayat pemilik KTP palsu!

Bekasi Dulu Di-bully, Sekarang?

Bekasi Dulu Di-bully, Sekarang?

Salam online para penghuni jagad maya di mana pun berada! Kalian pasti pernah pernah membaca, mendengar atau mengikuti meme-meme lucu tentang Bekasi baik itu di linimasa tiwtter, facebook, Istagram, path dan sebagainya. Bekasi di-bully netizen meskipun mungkin hanya sekadar lucu-lucuan saja tapi itu nyata dirasakan oleh warga Bekasi, sakitnya tuh di sini, hehehe. Saya ikut tersinggung meski saya bukan warga Bekasi. Tapi saya lebih banyak nyari duit di Bekasi.

Coba perhatikan kalimat-kalimat dan gambar “bullyan” di bawah ini:

“Di Bulan juga ternyata ada rambu-rambu yang menunjukkan kalau Bekasi terpisah dari Bumi.”

“Karena saking jauhnya, ada orang yang mesti naik pesawat Apollo buat ke Bekasi.”

foto kaskus
foto kaskus
foto kaskus
foto kaskus

Rata-rata bahan bully warga netizen adalah transportasinya yang terintegarasi, macet terutama di depan stasiun Bekasi Kota (bulan-bulan), tapi itu dulu. Nah, bagi para netizen di mana pun berada yang pernah “nge-bully” Bekasi ,siap-siap berubah pikiran sebab pelan tapi pasti Bekasi akan berbenah. Salah satunya moda transportasinya, warga Bekasi dan sekitarnya patut berbangga sebab Sabtu kemarin (7/10) telah diresmikan  alternatif lintas transportasi berbasis rel, yakni beroperasinya jalur/lintas Commuter Line yang akan menghubungkan Cikarang – Bekasi dan Jakarta. Selama ini jalur Commuter Line hanya sampai ke Stasiun Bekasi. Dengan adanya lintas baru ini, jalur ini akan warga Bekasi bisa menempuh perjalanan selain jalur Tol Becakayu yang sebentar lagi rampung. Untuk mendukung Lintas baru ini, dibangun stasiun-stasiun modern yakni, Stasiun Cikarang dan Bekasi Timur.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Stasiun Bekasi Timur. Stasiun yang letaknya tidak jauh dari terminal angkutan umum Bulak Kapal ini, bisa dibilang megah dan modern. Stasiun Bekasi Timur yang dibangun hasil kerja sama dengan pemerintah Jepang (JICA) dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas pendukung antara lain :

  1. Lahan parkir yang memadai,
  2. Peron sepanjang 270 meter yang mampu mengakomodir KRL dengan 12 kereta,
  3. Terpasang CCTV dan ticketing gate,
  4. Lift yang diprioritaskan bagi lansia dan penyandang disabiltas,
  5. Denah layout stasiun dan petunjuk jalur evakuasi.

Menurut data, lintasan Bekasi- Cikarang ini berjarak 16, 74 Km yang bisa ditempuh dalam waktu 21 menit selain itu frekuensi perjalanan KRL akan bertambah dan kapasitas angkut juga meningkat.

Rencananya, 32 kereta atau 16 perjalanan kereta (PP) akan melayani rute ini setiap hari dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Stasiun Cikarang ke Bekasi mulai pukul 05.05 WIB
  2. Kedatangan kereta terakhir di Stasiun Cikarang adalah pukul 23.45 WIB

Dengan adanya jalur atau lintas baru ini, dipastikan akan memudahkan  mobilisasi warga Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan sekitarnya dari dan ke Jakarta. Efek positifnya salah satunya menurunkan tingkat kemacetan di Cikarang, Bekasi, bahkan Jakarta. Titik-titik kemacetan di sepanjang Jalan Raya Bekasi ke Jakarta, misalnya Jalan Raya Kalimalang akan terurai.

Kita tahu jalur ini adalah jalur super duper padat, saban pagi dipenuhi ratusan pengendara motor yang datang dari arah Bekasi, ini tidak  bisa dipungkiri, merekalah (para pemotor) penyumbang terbesar masalah kemacetan di Jakarta dan daerah-daerah satelit lainnya, harapannya dengan adanya jalur kereta Cikarang-Bekasi-Jakarta akan menarik minat warga Bekasi khususnya warga Bekasi Timur dan Cikarang untuk memanfaatkan moda transportasi KRL tersebut, selain nyaman juga murah dan cepat!

Yuk naik KRL lebih mudah, cepat dan hemat! Mari warga Bekasi buktikan bahwa Bekasi juga bisa memiki stasiun keren

berikut tanggapan salah satu warga Bekasi dengan adanya lintas baru ini:

Dok.pribadi
Dok.pribadi
Menhub Budi Karya Sumadi Resmikan Stasiun Bekasi Timur (dokpri)
Menhub Budi Karya Sumadi Resmikan Stasiun Bekasi Timur (dokpri)
penampakan Luar St Bekasi Timur (dokumentasi Pribadi)
penampakan Luar St Bekasi Timur (dokumentasi Pribadi)
img-20171007-115509-59d977af79c3b112d77250b2.jpg
img-20171007-115509-59d977af79c3b112d77250b2.jpg
Setelah IQ, EQ, dan SQ, Kini Terbitlah DQ

Setelah IQ, EQ, dan SQ, Kini Terbitlah DQ

Kemarin, saat sedang berselancar di akun Instagram Hamish Daud (#eaaa), tak sengaja saya menemukan sebuah komentar netijen yang budiman. Posting yang dikomentari adalah serial foto saat Hamish mengajak Raisa untuk diving di masa bulan madu mereka.

Berikut komentarnya:

Skrinsyut
Skrinsyut

Jadi pengen nonjok nggak sih? Wkwkwkwk.

Di luar “maksud baik” pengirimnya (siapa yang tahu ya), ini hanya contoh kecil bagaimana kita kurang bisa menempatkan diri di dunia internet (dan secara lebih luas di dunia digital). Bukan hanya tidak sopan, ujaran tersebut juga merangsek ke wilayah privat yang seyogyanya tidak kita urusi.

Etika komunikasi dunia siber
Istilah dunia maya untuk mewakili internet menurut saya kurang pas. Dunia maya itu dunia seperti dunia game MMROG (massively multiplayer online games). Dunia seperti MMOG itu adalah dunia virtual, cocok disebut maya, karena memang diciptakan dunianya, karakternya, hingga visi dan misinya.

Menganggap bahwa dunia internet adalah dunia maya sedikit banyak mempengaruhi kita dalam menggunakannya dan berinteraksi di dalamnya. Saya cenderung menyebutnya dunia siber (cyberspace), dan tetap menganggapnya dunia nyata karena di dalamnya saya temui mereka-mereka yang memang ada di dunia ini. Hal ini sungguh membantu dalam meredam segala bentuk keinginan sesaat terbalut emosi tanpa penelitian mendalam (halah) untuk ngeshare, komen, atau menulis sesuatu. Godaannya memang berat. Heu.

Ragam etika komunikasi dunia siber ini sudah banyak diulas. Tak terbatas pada bagaimana berkomentar atau berdiskusi, juga ke hal-hal resmi dan profesional seperti mengirim lamaran pekerjaan atau berkirim surel pada dosen. Yakali kirim surel ke dosen pake wkwkwkwk.

Fenomena ini terjadi seiring dengan perkembangan dunia digital dan bagaimana kita mengadopsinya. Dan karena itulah muncul juga pemikiran-pemikiran dan implementasi mengenai perlunya digital quotient (DQ), sebuah kompetensi terkait dunia digital.

Dulu segmented, kini menjadi “keharusan”
Setidaknya hingga 10 tahun yang lalu, hal-hal yang berhubungan dengan dunia digital dan IT itu adalah sebuah ranah yang spesifik, dengan profesi yang dijalani oleh mereka-mereka yang ahli pula. Kini, hampir semua sisi kehidupan kita berhubungan dengan itu; dari model dan sistem pendidikan, cara belanja, moda transportasi, hingga perbankan. Sekolah dari tingkatan terendah, sudah memasukkan pembelajaran digital dan multimedia pada murid-muridnya.

Iya, Generasi Z adalah generasi yang sepenuhnya terekspos pada dunia digital; karenanya mereka disebut digital natives. Tahun kelahiran Generasi Z ini masih menjadi perdebatan terbuka, namun di sini saya sebut sebagai mereka yang lahir setelah tahun 1996. Generasi Z tertua di tulisan ini berarti hampir atau sudah lulus kuliah.

Permasalahan dari dunia digital dan IT ini dan generasi kita adalah laju perkembangan yang tak seimbang. Ibaratnya dunia digital dan IT berkembang secara eksponensial, sementara kemampuan kita generasi sebelum Generasi Z mengikutinya barangkali linear. Banyak dari kita yang tidak mengenal internet sampai usia dewasa dan paruh baya. Saat itu, kemampuan kita mengikuti teknologi juga mulai melambat, mikir aja kadang ngos-ngosan, cyin.

Keterbatasan untuk mengikuti perkembangan dunia digital yang super cepat itulah yang sering menjerumuskan kita dalam perilaku-perilaku kurang berfaedah, baik soal etika, keseringan online, keamanan, hingga critical thinkingWorld Economic Forum dalam beberapa riset, artikel, dan inisiatifnya terkait DQ memetakan apa saja kompetensi yang seharusnya diajarkan dan dikenalkan pada anak terkait “kewarganegaraan digital” mereka. Peta yang menurut saya juga berlaku untuk kita semua, tak peduli generasi apa.

DQ menurut riset World Economic Forum (kredit foto: weforum.org)
DQ menurut riset World Economic Forum (kredit foto: weforum.org)

Peta ini sungguh mencerminkan permasalahan yang sering kita bahas terkait dunia digital. Dimulai dari yang paling dasar, identitas. Dunia digital memang “menyarukan” identitas. Kita tentu masih ingat dengan Saracen. Kita juga “kenal” dengan Buni Yani dan Jonru. Baik anonim atau bernama, keberadaan kita dunia digital hendaknya dikelola dengan sehat dan dengan integritas. Untuk anak-anak, mengajarkan bahwa mereka juga menjadi warga negara digital ini penting untuk membangun etika, perilaku yang baik, dan menjaga keamanan mereka. Secara lebih jauh, ini berkaitan erat dengan menjaga privasi dan mengelola jejak alias footprint. Zaman now juga adalah zaman skrinsyut, cyin. Yang kita ucapkan seabad lalu saat masih cupu bisa jadi “senjata” orang lain untuk menyerang kita di masa kini.

Kecerdasan digital ini juga meliputi empati digital dan perisakan siber (cyberbullying). Memahami perasaan dalam interaksi langsung saja sering kedodoran, apalagi ini di ranah digital yang sering singkat, tidak bernada, bahkan tanpa titik koma. Kayaknya lebih mudah menerjemahkan gerakan buntut kucing dibanding memahami perasaan warganet dan berempati pada mereka. Heu. Karena sulit dilakukan inilah, kesalahpahaman dan perisakan siber sering terjadi. Berempati aja susah, makanya menahan diri untuk nggak nyinyir juga sama susahnya.

Poin tak kalah penting, bahkan menurut saya paling penting, dari keberadaan kita di dunia digital adalah mengenai pemikiran kritis (critical thinking). Dalam definisinya, WEF menyebutkan pemikiran kritis ini meliputi kemampuan membedakan informasi benar dan salah, konten yang baik dan mengancam, serta kontak yang dapat dan tidak dapat dipercaya di komunikasi daring. Sudah cukup sering kita mendapat brodkes informasi kurang diyakini kebenarannya di WAG, mudah mempercayai sumber tanpa ricek-ricek-ricek, hingga kasus-kasus penipuan cinta di berbagai media sosial yang melibatkan uang. Kita yang sudah dewasa (asumsinya) saja bisa terjebak, apalagi anak-anak?

DQ ini dimensi yang jelas dan juga memiliki alat ukur, dan sebagaimana layaknya alat ukur lainnya; bisa saja tidak mewakili kondisi sesungguhnya atau menyatakan secara pasti bahwa skor rendah sama dengan apa. Lepas dari itu, menyadari bahwa dalam perkembangan teknologi yang pesat dan bergeraknya sistem dunia ke arah sana, mau tak mau kita harus memikirkan kompetensi dan model kecerdasan digital yang relevan. Baik relevan dengan kita sendiri juga dengan generasi selanjutnya, anak-anak dan cucu-cicit. Saya tak bisa menyalahkan para orangtua yang “alergi” dengan teknologi, melarang anaknya untuk sama sekali tak memegang hape atau tablet; mengingat banyaknya dampak negatif yang muncul di dunia digital. Dari sudut pandang perlindungan anak, kita seyogyanya juga mempertimbangkan bahwa anak-anak itu (dan kita!) akan menjadi warga negara digital. Dan menghadapi sekian banyak tantangan dunia digital yang tak terhindarkan ini (kecuali mau tinggal di pedalaman hutan), kita harus menyesuaikan.

Selamat datang, DQ.

Perlukah Kita Belajar Memakai Sumpit?

Perlukah Kita Belajar Memakai Sumpit?

Era yang serba modern saat ini, makan menggunakan sumpit bukan hal yang istimewa lagi. Sendok, garpu, adalah alat makan yang mengeser kebiasaan makan dengan tangan. Tanpa harus repot mencuci tangan, penggunaan alat makan seperti sendok dan garpu dianggap paling pas sebagai penggantinya. Lalu, kamu termasuk pengguna alat makan yang mana?

Dulu sekali, saat melihat orang makan memakai sumpit sungguh sangat keren. Setelah di coba ternyata tidak segampang jika melihat orang lain memakainya. Dan yang pasti, jenis makanan kita sangat kurang cocok jika memakai sumpit, cukup menggunakan tangan atau sendok biasa untuk menikmatinya.

Kalau di rumah orang tua, masih menggunakan tangan saat makan hanya bapak dan ibu, yang lain memilih alat yang praktis yaitu sendok. Beda dengan di Kota, makan menggunakan tangan hanya pada menu tertentu saja. Contoh makan pecel lele, akan lebih nikmat jika memakai tangan untuk menyantapnya. Kalaupun nekat pakai sumpit, mustahil juga kami bisa menikmatinya.

Sebagian orang menggangap makan menggunakan sumpit sangat merepotkan. Mungkin kamu termasuk  tidak bisa memakai sumpit? jika iya, tidak ada salahnya belajar dari sekarang, mana tau suatu saat harus menggunakan alat tsb.

Saat ini, penggunaan sumpit sendiri selain di restoran Jepang, Taiwanserta beberapa masakan khas luar sepertinya tetap menggunakan alat makan berupa sendok dan garpu. Untuk makanan Jepangmemang cocok jika memakai sumpit, kalau menu makanan kita paling jenis makanan yang berbentuk mie saja.

Seperti menghabiskan semangkuk mie ayam akan lebih nikmat memakai sendok dan garpu, karena ada daging di dalamnya. Namun sekarang, banyak disediakan sumpit untuk pilihanya. Banyak pilihan, namun harus tetap memilih yang cocok untuk kita gunakan. Jangan memaksakan juga memakai sumpit jika tidak mahir, nanti malah hilang selera makanya. Betulkan!

Di beberapa kesempatan, ketika ada jamuan makan dari perusahaan, menunya pasti masakan Jepang, penggunan sumpit seolah menjadi hal yang wajib. Banyak rekan kerja tidak dapat memakai sumpit dengan baik, mereka cenderung sangat hati-hati karena mungkin khawatir makanan akan jatuh saat diambil atau ketika mau memakanya. Duh repotkan kalau begitu.

Ketika kita tidak dapat memakai sumpit dengan baik, makanan seolah hanya sebuah hidangan yang tak memiliki rasa. Kenapa harus malu memakai sendok atau garpu, mungkin terasa janggal, tapi toh tidak ada yang melarang. Kalau saya tidak akan memaksa diri, pernah juga minta sendok saat makan menu masakan Jepang, malu juga sih hahaha….tapi lihat-lihat kondisilah, bila bersama tamu sebaiknya dihindari.

Penggunaan sumpit yang salah, malah akan membuat kita malu sendiri. Coba kalau lagi asik makan bakso, tetiba baksonya mengelinding, bisa dibully sama teman seumur hidup hehehe…. Tidak ada salahnya juga kita mempelajari bagaimana cara makan memakai sumpit yang benar, hanya perlu waktu beberapa menit saja, yang terpenting paham teorinya.

Belajar Memakai Sumpit

Gambar|Livejapan.com
Gambar|Livejapan.com

Saya sendiri tidak begitu lihai memakai sumpit saat makan, hanya tuntutan budaya sehingga mau tak mau harus belajar. Masih sangat ingat saat pertama kali belajar menggunakan sumpit, media yang saya gunakan yaitu kacang yang diletakan di dalam mangkuk. Awalnya sangat sulit, karena cara peletakan sumpit di jari salah, lama-lama bisa juga. Untuk cara memegang sumpit yang benar bisa di cari lewat internet.

Untuk melatih memakai sumpit, dulu hampir tiap hari saya buat mie instan (Mie goreng), bosan juga tapi karena ingin cepat bisa ya dilakukan. Jika masih sering jatuh atau meleset dari pegangan sumpit, itu artinya perlu latihan terus-menerus. Tidak perlu waktu berbulan-bulan juga, hitungan hari bila serius mau belajar pasti bisa. Silahkan latihan seperti saya, beli indomie satu kardus buat latihan, di jamin belum habis satu kardus pasti sudah bisa menggunakanya dengan lancar.(Serius)

Memilih Sumpit yang Aman

Gambar|Imgrum.org
Gambar|Imgrum.org

Tidak semua tempat makan menyediakan sumpit sebagai alat untuk makan. Terkadang ada yang menyediakan, namun fungsinya sudah seperti sendok, “selesai cuci pakai lagi.” Sebaiknya memilih sumpit yang memang kondisinya masih baru alias masih terbungkus plastik.

Memilih sumpit yang masih baru tentu dengan pertimbangan yang matang, salah satunya soal kesehatan. Biasanya sumpit yang terbuat dari bambu atau kayu, hanya digunakan sekali, setelah itu dibuang. Akan lebih baik hindari sumpit tanpa bungkus plastik atau yang sering digunakan berulang kali.

Mengenai pemakaian sumpit, bukan bermaksud menggurui juga, karena faktanya sering saya saksikan banyak orang yang tidak paham dalam memakai sumpit. Mungkin karena alasan tadi, banyak alternatif selain harus memakai sumpit, tapi lain cerita kalau tidak ada sendok selain sumpit sebagai alat untuk makan. Tergantung jenis makananya juga, bila berkuah tentu tidak bisa juga memakai tangan untuk menyantapnya.

Saya ada cerita sedikit, minggu yang lalu saya mengikuti training di luar yang berhubungan dengan pekerjaan. Makan siang di sediakan oleh tuan rumah, kebetulan menu saat itu Bento (masakan Jepang). Seperti biasanya masakan Jepang, tidak menyediakan sendok atau garpu kecuali jika makan di restoran.

Hanya sumpit tok loh, nggak ada yang lain, iseng memperhatikan rekan-rekan peserta training makan. Ternyata hampir semua peserta cara memegang sumpitnya kurang tepat seperti yang saya tau. Banyak orang beranggapan bahwa, mempelajari cara memegang atau memakai sumpit tidaklah penting, namun ternyata pada suatu kesempatan tertentu, kita dihadapkan pada situasi yang tidak pernah kita pikirkan selama ini, yaitu makan memakai sumpit.

Tidak ada salahnya mempelajari bagian dari table manner, karena kita tidak tahu kapan dan di mana akan menjamu atau dijamu oleh orang lain. Saya yakin kamu bakal menemukan sensasi berbeda jika mahir dalam memakai sumpit, buktikan dan rasakan.

TNI AD: Tidak Ada Aturan Tentara Parkir Gratis

TNI AD: Tidak Ada Aturan Tentara Parkir Gratis

Aksi dokter koboi di sebuah parkiran Mal Gandaria City mendadak viral. Pangkal persoalan adalah dokter bernama Anwari itu mengaku seorang tentara dan menolak membayar parkir karena seorang tentara.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen Alfret Denny Tuejeh mengatakan, tidak ada aturan yang menyebut anggota TNI mendapatkan fasilitas parkir gratis.

“Tidak ada aturan kalau tentara, militer parkir di suatu tempat harus gratis, tidak bayar, itu sikap arogansi,” kata Alfret saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (8/10/2017).

Setiap anggota TNI, kata Alfret, tetap mengikuti peraturan parkir yang berlaku. Jangan karena dia seorang tentara, biaya parkir minta digratiskan

“Kalau digratiskan ya terima kasih, kalau harus bayar ya bayar juga” kata Alfret.

Aksi koboi dokter Anwari terekam CCTV parkir Mal Gandaria City, di area basement 2, Jumat malam, 6 Oktober, sekitar pukul 20.30 WIB.

Meski petugas parkir sudah bersujud minta ampun, pelaku tetap mengeluarkan senjata api dan mengarahkan pada korban.

Anwari kini sudah berstatus tersangka. Polisi menjeratnya dengan pasal penganiayaan. Sementara, untuk pasal penggunaan senjata api masih diselidiki.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Iwan Kurniawan mengatakan, Anwari, pria yang melepas tembakan di Mal Gandaria City, bukan anggota TNI. Dia sudah berkoordinasi dengan TNI atas kasus tersebut.

Kemudian soal mobil yang dibawa oleh Anwari diketahui merupakan mobil dinas sang istri yang bertugas di RSPAD Gatot Subroto. Mobil dinas tersebut memiliki pelat nomor 1058-45.

“Itu mobil dinas istri tersangka. Jadi sebelumnya tersangka juga dokter di sana tapi sudah pensiun,” kata Kombes Iwan, Jakarta, Minggu (8/10/2017).

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AD Brigjen TNI Alfert Denny Tuejeh mengatakan, dari pelat mobil yang disebutkan, pelat tersebut merupakan nomor pelat satuan jajaran TNI AD.

“Melihat nomor mobil ya itu pelat jajaran AD. Tapi hasil konfirmasi bahwa nama dokter Anwari tidak ada di jajaran TNI AD, ” ujar Iwan kepada duniaberitaku.com