MENGAPA ORANG CENDERUNG MENYEBAR HOAX

MENGAPA ORANG CENDERUNG MENYEBAR HOAX

Pernyataan Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam bukunya “The New Digital Age” mungkin benar bahwa internet merupakan salah satu hal yang dibangun oleh manusia tetapi tidak benar-benar dipahami oleh manusia. Tersebarnya informasi palsu “hoax” secara masif dan cepat bisa menjadi bukti bahwa internet juga bisa mejadi alat yang sangat membahayakan. Hoax akan cukup bisa membuat sebuah negara mengalami konflik dan pecah. Namun, yang paling berbahaya adalah bahwa hoax dapat membuat otak terkontaminasi oleh informasi palsu yang dapat terus tertimbun dalam memori otak manusia secara besar-besaran. Akibatnya adalah salah pandangan dan pengambilan keputusan terhadap suatu isu.

Forward-Looking Threat Research dalam penelitiannya mengistilahkan peristiwa ini dengan manipulasi opini dan presepsi publik. Peristiwa ini dapat kita amati ketika Pemilihan Umum presiden tahun 2014 yang sangat marak dengan informasi palsu yang tersebar melalui Facebook dengan pergerakan cukup masif. Mulai dari berita “Jokowi Komunis” ataupun “Prabowo otoriter” hingga berita sara yang menyinggung kedua kandidiat. Namun, informasi hoax ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun tidak lepas dari munculnya berita hoax. Maraknya hoax juga menjadi isu saat pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu yang memenangkan Donald Trump. Di mana, muncul informasi Paus Francis yang mendukung Trump yang terbukti palsu. Fakta penelitian menunjukkan bahwa pembuatan berita tersebut dimotifi oleh keuntungan atau maksud politis tertentu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Pertanyaan besarnya adalah bagaimana hoax bisa menjadi viral? Mengapa orang cenderung mudah menyebarkan hoax?

 

Penelitian akhir-akhir ini menjelaskan bahwa keterbatasan perhatian seseorang dan juga laju informasi yang cukup pesat dapat membuat informasi palsu dapat tersebar dan viral. Tim peneliti dari US yang dikepalai oleh Diego Fregolente dan Mendes de Oliveira mencoba mengukur pengaruh laju informasi terhadap viralitas sebuah informasi dengan menerbitkan informasi dengan laju tertentu pada sosial media dengan spesifikasi informasi berkualitas tinggi (gambar asli, foto yang menarik, dan klaim kebenaran) dan informasi berkualitas rendah. Hasil penelitian didapatkan bahwa kedua informasi memiliki nilai viralitas yang sama, keduanya sama-sama menarik untuk disebarluaskan oleh pengguna sosial media seperti Facebook dan Twitter. Hal ini disebabkan terlalu banyaknya informasi yang disebarkan membuat pengguna sosial media kurang memperhatikan informasi, termasuk kualitas. Peristiwa ini dapat menjelaskan mengapa informasi palsu dengan kualitas buruk dapat menjadi viral. Selain itu, pada penelitian yang lain didapatkan bahwa proses kognitif sesesorang dalam mencerna informasi juga dapat membuat informasi palsu tersebar secara viral. Seseorang sebagian hanya memberikan perhatian dan menyebarkan suatu informasi berdasarkan kepercayaan saja meskipun informasi tersebut terbukti salah. Proses kognitif seseorang terkait respon terhadap suatu informasi telah banyak dipelajari hingga saat ini.

Bagaimana otak mencerna Informasi (Hoax) ?

 

Proses kognitif erat kaitannya dengan bagaimana otak menerima informasi dan menyimpannya dalam memori otak. Di mana otak kita memiliki dua pikiran, yaitu pikiran emosional dan rasional. Pikiran rasional bersifat sadar sementara pikiran emosional bersifat impulsif dan tidak logis. Seseorang yang menerima informasi bencana alam akan menyimpan data emosional berupa suasana kesedihan bencana alam dan informasi rasional seperti waktu, tempat, ataupun penyebab peristiwa dalam otak. Sehingga ketika menemui peristiwa bencana, maka seseorang akan mengetahui bahwa bencana merupakan peristiwa yang menyedihkan dan otak menstimulus hormon yang mengaktivasi kesedihan. Itu merupakan mekanisme bagaimana manusia belajar dari pengalaman.

Profesor psikologi University of Texas, Art Markman, dalam artikelnya menjelaskan bahwa manusia sejak kecil memiliki pengetahuan yang cukup sedikit tentang cara kerja dunia. Di situ manusia belajar dari pengalaman dan pengamatan dari lingkungan di sekitarnya untuk mampu mengembangkan pemahamannya akan dunia. Sehingga, tahap pengalaman seseorang di masa kecil erat kaitannya dengan lingkungan sekitar dan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bertindak seseorang di masa depan karena selama masa mengenal, informasi yang didapatkan cenderung diasumsikan sebagai kebenaran. Dan hal tersebut cukup berbahaya ketika informasi palsu dicerna oleh anak-anak yang masih dalam tahap mengakomodasi informasi apapun. Dan tidak kalah bahayanya adalah ketika informasi tersebut juga dicerna oleh seseorang yang memiliki wawasan sempit seperti yang menimpa mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Di mana masyarakat Indonesia saat ini masih sangat minim literasi. Dalam penelitian oleh Central Connecticut State University US tahun 2016, dari 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dalam hal kegemaran membaca. Berdasarkan data UNESCO tahun 2015 menyebutkan bahwa dari 1000 masyarakat Indonesia hanya 21 orang yang rutin membaca. Hal ini diperparah juga oleh kondisi pendidikan Indonesia yang lebih bersifat indoktrinasi daripada melatih “critical thinking” dengan indikator indeks pendidikan yang lebih rendah dari Thailand.

Selanjutnya, informasi yang diterima tersebut akan disimpan dalam neuron-neuron pada neokorteks yang dapat dipanggil kembali ketika mengalami situasi yang berkaitan. Seseorang yang pernah belajar cara menghidupkan komputer akan mampu menghidupkan komputer yang sama di kemudian waktu karena telah tersimpan di memori otaknya cara menghidupkan komputer. Menurut Art Markman, otak tidak memiliki mekanisme sederhana untuk mengapuskan apa yang telah kita indera. Termasuk informasi palsu yang telah tersimpan dan dianggap sebagai kebenaran, yang dapat secara otomatis dipanggil kembali ketika menghadapi situasi yang berkaitan. Dan ini berbahaya, ketika informasi palsu diperkuat dengan alasan-alasan palsu yang lain. Hal ini bisa jadi membuat seseorang enggan meluangkan waktu untuk memperhatikan karena menghindari informasi tersebut mempengaruhi pikirannya.

Wacana hoax sebagaian besar mengirimkan pesan yang sarat emosional. Ciri-ciri pesan emosional pada berita hoax adalah menyindir orang lain, bersifat sara dan memihak, serta menebarkan kebencian. Pada kasus di Indonesia, unsur sara sering digunakan dalam menyebarkan informasi palsu. Mengapa lebih memilih isu sara? Karena sara merupakan merupan keyakinan, yang tertanam dalam pikiran dan karakter penganut sejak kecil, sehingga sulit untuk digoyangkan dan bersifat semi-permanen. Pesan emosional yang terkandung dalam wacana hoax akan direspon oleh otak dengan proses jalan pintas “shortcut” oleh organ yang disebut amigdala. Amigdala merupakan pusat tindakan yang baru ditemukan oleh Joseph LeDoux, ahli saraf Center for Neural Science di New York University. Amigdala, merupakan struktur yang saling terkoneksi dengan bagiaan otak lain, spesialis masalah emosional, dan mampu membajak otak. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intellegence” amigadala bekerja secara asosiatif dengan membandingkan antara apa yang terjadi sekarang dengan databaseyang terjadi pada masa lampau. Bila salah satu unsur kunci terpenuhi dan cocok maka amigdala akan menyebutnya cocok lalu mengirimkan impuls ke bagian otak lain untuk memicu hormon dan memobilisasi alat-alat gerak dan keputusan ini sangatlah sembrono. Database ingatan ini akan semakin kuat jika berasal dari hal-hal yg traumatis, seperti pemukulan, penghinaan, atau pengucilan. Hal ini terlihat seperti pada akhir-akhir ini ketika adanya pengangkatan isu PKI yang merupakan momen sarat emosional yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Hal ini mengakibat reaksi yang cukup cepat dan masif dari masyarakat. Padahal hal ini harus diwaspadai oleh masyarakat, mengingat bila pengambilan keputusan sarat emosional maka keputusan bisa jadi salah kaprah. Kekeliruan emosional seperti ini terjadi karena mendahulukan emosional daripada nalar atau “emosi prakognitif”. Hal ini memang merupakan jalan pintas yang dapat menghemat waktu berpikir dalam mengambil keputusan, tetapi dapat dikatakan sembrono.

Inilah yang cukup berbahaya jika melanda masyarakat yang belum memiliki wawasan dan cara berpikir kritis. Kepercayaan dangkal tanpa sebab akan dapat menciptakan kefanatikan yang secara otomatis akan menolak kebenaran yang lain. Sehingga, menurut Professor Art Markman cara terbaik untuk menghindari dampak buruk hoax adalah dengan berhati-hati dan meluangkan waktu untuk memikirkan wacana dan opini yang dibawa sebuah informasi.

Namun, apakah kegagalan berpikir dan menganggapi informasi merupakan faktor satu-satunya mengapa hoax menjadi viral? Ataukah ada faktor lain mengingat negara sekelas AS yang merupakan negara maju dengan indeks literasi urutan ke-7 dunia dengan sistem pendidikan terbaik ke 14 dunia masih dilanda isu hoax? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *