MENGAPA ORANG CENDERUNG MENYEBAR HOAX

MENGAPA ORANG CENDERUNG MENYEBAR HOAX

Pernyataan Eric Schmidt dan Jared Cohen dalam bukunya “The New Digital Age” mungkin benar bahwa internet merupakan salah satu hal yang dibangun oleh manusia tetapi tidak benar-benar dipahami oleh manusia. Tersebarnya informasi palsu “hoax” secara masif dan cepat bisa menjadi bukti bahwa internet juga bisa mejadi alat yang sangat membahayakan. Hoax akan cukup bisa membuat sebuah negara mengalami konflik dan pecah. Namun, yang paling berbahaya adalah bahwa hoax dapat membuat otak terkontaminasi oleh informasi palsu yang dapat terus tertimbun dalam memori otak manusia secara besar-besaran. Akibatnya adalah salah pandangan dan pengambilan keputusan terhadap suatu isu.

Forward-Looking Threat Research dalam penelitiannya mengistilahkan peristiwa ini dengan manipulasi opini dan presepsi publik. Peristiwa ini dapat kita amati ketika Pemilihan Umum presiden tahun 2014 yang sangat marak dengan informasi palsu yang tersebar melalui Facebook dengan pergerakan cukup masif. Mulai dari berita “Jokowi Komunis” ataupun “Prabowo otoriter” hingga berita sara yang menyinggung kedua kandidiat. Namun, informasi hoax ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun tidak lepas dari munculnya berita hoax. Maraknya hoax juga menjadi isu saat pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu yang memenangkan Donald Trump. Di mana, muncul informasi Paus Francis yang mendukung Trump yang terbukti palsu. Fakta penelitian menunjukkan bahwa pembuatan berita tersebut dimotifi oleh keuntungan atau maksud politis tertentu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Pertanyaan besarnya adalah bagaimana hoax bisa menjadi viral? Mengapa orang cenderung mudah menyebarkan hoax?

 

Penelitian akhir-akhir ini menjelaskan bahwa keterbatasan perhatian seseorang dan juga laju informasi yang cukup pesat dapat membuat informasi palsu dapat tersebar dan viral. Tim peneliti dari US yang dikepalai oleh Diego Fregolente dan Mendes de Oliveira mencoba mengukur pengaruh laju informasi terhadap viralitas sebuah informasi dengan menerbitkan informasi dengan laju tertentu pada sosial media dengan spesifikasi informasi berkualitas tinggi (gambar asli, foto yang menarik, dan klaim kebenaran) dan informasi berkualitas rendah. Hasil penelitian didapatkan bahwa kedua informasi memiliki nilai viralitas yang sama, keduanya sama-sama menarik untuk disebarluaskan oleh pengguna sosial media seperti Facebook dan Twitter. Hal ini disebabkan terlalu banyaknya informasi yang disebarkan membuat pengguna sosial media kurang memperhatikan informasi, termasuk kualitas. Peristiwa ini dapat menjelaskan mengapa informasi palsu dengan kualitas buruk dapat menjadi viral. Selain itu, pada penelitian yang lain didapatkan bahwa proses kognitif sesesorang dalam mencerna informasi juga dapat membuat informasi palsu tersebar secara viral. Seseorang sebagian hanya memberikan perhatian dan menyebarkan suatu informasi berdasarkan kepercayaan saja meskipun informasi tersebut terbukti salah. Proses kognitif seseorang terkait respon terhadap suatu informasi telah banyak dipelajari hingga saat ini.

Bagaimana otak mencerna Informasi (Hoax) ?

 

Proses kognitif erat kaitannya dengan bagaimana otak menerima informasi dan menyimpannya dalam memori otak. Di mana otak kita memiliki dua pikiran, yaitu pikiran emosional dan rasional. Pikiran rasional bersifat sadar sementara pikiran emosional bersifat impulsif dan tidak logis. Seseorang yang menerima informasi bencana alam akan menyimpan data emosional berupa suasana kesedihan bencana alam dan informasi rasional seperti waktu, tempat, ataupun penyebab peristiwa dalam otak. Sehingga ketika menemui peristiwa bencana, maka seseorang akan mengetahui bahwa bencana merupakan peristiwa yang menyedihkan dan otak menstimulus hormon yang mengaktivasi kesedihan. Itu merupakan mekanisme bagaimana manusia belajar dari pengalaman.

Profesor psikologi University of Texas, Art Markman, dalam artikelnya menjelaskan bahwa manusia sejak kecil memiliki pengetahuan yang cukup sedikit tentang cara kerja dunia. Di situ manusia belajar dari pengalaman dan pengamatan dari lingkungan di sekitarnya untuk mampu mengembangkan pemahamannya akan dunia. Sehingga, tahap pengalaman seseorang di masa kecil erat kaitannya dengan lingkungan sekitar dan sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bertindak seseorang di masa depan karena selama masa mengenal, informasi yang didapatkan cenderung diasumsikan sebagai kebenaran. Dan hal tersebut cukup berbahaya ketika informasi palsu dicerna oleh anak-anak yang masih dalam tahap mengakomodasi informasi apapun. Dan tidak kalah bahayanya adalah ketika informasi tersebut juga dicerna oleh seseorang yang memiliki wawasan sempit seperti yang menimpa mayoritas masyarakat Indonesia saat ini. Di mana masyarakat Indonesia saat ini masih sangat minim literasi. Dalam penelitian oleh Central Connecticut State University US tahun 2016, dari 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dalam hal kegemaran membaca. Berdasarkan data UNESCO tahun 2015 menyebutkan bahwa dari 1000 masyarakat Indonesia hanya 21 orang yang rutin membaca. Hal ini diperparah juga oleh kondisi pendidikan Indonesia yang lebih bersifat indoktrinasi daripada melatih “critical thinking” dengan indikator indeks pendidikan yang lebih rendah dari Thailand.

Selanjutnya, informasi yang diterima tersebut akan disimpan dalam neuron-neuron pada neokorteks yang dapat dipanggil kembali ketika mengalami situasi yang berkaitan. Seseorang yang pernah belajar cara menghidupkan komputer akan mampu menghidupkan komputer yang sama di kemudian waktu karena telah tersimpan di memori otaknya cara menghidupkan komputer. Menurut Art Markman, otak tidak memiliki mekanisme sederhana untuk mengapuskan apa yang telah kita indera. Termasuk informasi palsu yang telah tersimpan dan dianggap sebagai kebenaran, yang dapat secara otomatis dipanggil kembali ketika menghadapi situasi yang berkaitan. Dan ini berbahaya, ketika informasi palsu diperkuat dengan alasan-alasan palsu yang lain. Hal ini bisa jadi membuat seseorang enggan meluangkan waktu untuk memperhatikan karena menghindari informasi tersebut mempengaruhi pikirannya.

Wacana hoax sebagaian besar mengirimkan pesan yang sarat emosional. Ciri-ciri pesan emosional pada berita hoax adalah menyindir orang lain, bersifat sara dan memihak, serta menebarkan kebencian. Pada kasus di Indonesia, unsur sara sering digunakan dalam menyebarkan informasi palsu. Mengapa lebih memilih isu sara? Karena sara merupakan merupan keyakinan, yang tertanam dalam pikiran dan karakter penganut sejak kecil, sehingga sulit untuk digoyangkan dan bersifat semi-permanen. Pesan emosional yang terkandung dalam wacana hoax akan direspon oleh otak dengan proses jalan pintas “shortcut” oleh organ yang disebut amigdala. Amigdala merupakan pusat tindakan yang baru ditemukan oleh Joseph LeDoux, ahli saraf Center for Neural Science di New York University. Amigdala, merupakan struktur yang saling terkoneksi dengan bagiaan otak lain, spesialis masalah emosional, dan mampu membajak otak. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intellegence” amigadala bekerja secara asosiatif dengan membandingkan antara apa yang terjadi sekarang dengan databaseyang terjadi pada masa lampau. Bila salah satu unsur kunci terpenuhi dan cocok maka amigdala akan menyebutnya cocok lalu mengirimkan impuls ke bagian otak lain untuk memicu hormon dan memobilisasi alat-alat gerak dan keputusan ini sangatlah sembrono. Database ingatan ini akan semakin kuat jika berasal dari hal-hal yg traumatis, seperti pemukulan, penghinaan, atau pengucilan. Hal ini terlihat seperti pada akhir-akhir ini ketika adanya pengangkatan isu PKI yang merupakan momen sarat emosional yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Hal ini mengakibat reaksi yang cukup cepat dan masif dari masyarakat. Padahal hal ini harus diwaspadai oleh masyarakat, mengingat bila pengambilan keputusan sarat emosional maka keputusan bisa jadi salah kaprah. Kekeliruan emosional seperti ini terjadi karena mendahulukan emosional daripada nalar atau “emosi prakognitif”. Hal ini memang merupakan jalan pintas yang dapat menghemat waktu berpikir dalam mengambil keputusan, tetapi dapat dikatakan sembrono.

Inilah yang cukup berbahaya jika melanda masyarakat yang belum memiliki wawasan dan cara berpikir kritis. Kepercayaan dangkal tanpa sebab akan dapat menciptakan kefanatikan yang secara otomatis akan menolak kebenaran yang lain. Sehingga, menurut Professor Art Markman cara terbaik untuk menghindari dampak buruk hoax adalah dengan berhati-hati dan meluangkan waktu untuk memikirkan wacana dan opini yang dibawa sebuah informasi.

Namun, apakah kegagalan berpikir dan menganggapi informasi merupakan faktor satu-satunya mengapa hoax menjadi viral? Ataukah ada faktor lain mengingat negara sekelas AS yang merupakan negara maju dengan indeks literasi urutan ke-7 dunia dengan sistem pendidikan terbaik ke 14 dunia masih dilanda isu hoax? 

Mengenal Ladang Mayat

Mengenal Ladang Mayat

Body farm atau ladang mayat merupakan luasan yang digunakan untuk penelitian para ahli forensik yang terletak di texas state university. Pada lahan yang diklaim terluas di negaranya itu, body farm penuh dengan jajaran mayat per petak yang diteliti oleh peneliti hingga mahasiswa.

Per petak penelitian biasanya diisi beragam sample mayat tergantung tujuan pengadaan penelitian. Mayoritas peneliti dari keilmuwan forensic mengaku, banyak melakukan kerjasama dengan professor dan mahasiswa dari universitas di jurusan serupa semata mata untuk mengambl lebih banyak data pengamatan dan meminimalisir penggunaan mayat yang sekiranya tidak perlu diperbanyak.

Di ladang mayat, kita bisa menemukan berbagai perlakuan terhada mayat sampling. Mayat di lingkungan terbuka dengan atau tanpa busana, mayat di lingkup tertutup dengan atau tanpa busana, mayat dengan kronologi buatan penganiayaan dan insiden buang, mayat dalam genangan air dengan konsentrsasi atau zat genang tertentu, dan lain sebagainya.

Kesan pertama ketika memasuki ladang mayat akan menjadi kesan yang cukup menyentuh. Fakta bahwa kita, kehidupan kita, dan tubuh kita ternyata akan berakhir sedemikian rupa bila atau tanpa penguburan, menjadi hal yang patut jadi renungan bahwa kehidupan adalah hal terindah yang harus kita nikmati sebaik dan sebermafaat mungkin, setidaknya, mereka yang jadi objek berkalang tanah dan memiliki bau menyengat pun, bisa tetap memberi manfaat bagi yang masih hidup.

Mungkin masih menjadi hal tabu bagi masyarakat kita untuk mengeksplorasi mayat, dan fakta bahwa penelitian tentang kematian ini dilakukan dengan berbagai metode yang terlihat seperti ditelantarkan, menjadi salah satu alasan mengapa beberapa oknum tetap melihat ladang mayat dan aktifitas keilmuwan didalamnya dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu kesakralan dari kematian.

Namun jika kita mau membuka wawasan dan memilih untuk bersikap bijak, kematian pun, bukan menjadi akhir, melainkan menjadi awal bagi kita, untuk tetap mengabdi pada ilmu pengetahuan dari dimensi kehiduan yang berbeda, juga menjadi pilihan bagi para pendonor, untuk merasa tenang karena hingga akhir, mereka dapat membantu kehidupan orang yang membutuhkan.

So, apapun yang terjadi dan jadi sebuah pemahaman, yakinlah bahwa tidak ada hal yang menjadi sia sia selama kita masih bisa bersikap bijak dan mau tetap membuka wawasan untuk dunia yang terus berkembang.

Di Amerika, Pemilik KTP Palsu Takut Emak daripada Polisi

Di Amerika, Pemilik KTP Palsu Takut Emak daripada Polisi

Ketika belanja di sebuah supermarket di Amerika Serikat, saya melihat bahwa setiap pembeli minuman keras harus menunjukkan ID atau SIM untuk memastikan usia pembeli. Hanya yang berusia 21 tahun ke atas yang boleh beli minuman beralkohol. Inilah diantara sebab kenapa ada KTP palsu.

Pernah saya melihat seorang kasir mencurigai seorang pembeli. Mungkin usia di KTP atau SIM tak sesuai dengan wajah. Si Kasir kemudian minta nomor telphon orang tua si pembeli. Tanpa diduga, si calon pembeli tergesa gesa meninggalkan kasir. Rupanya dia “takut” ketahuan sama emaknya kalau mau mengkonsumsi minuman keras. Pemilik KTP palsu lebih takut dengan emaknya daripada polisi.

Mungkin cuma di Amerika Serikat kalau punya KTP palsu tidak dianggap sebagai “kejahatan.” Penjual atau pencetaknya bagaimana pula? Malah dianggap pembayar pajak yang harus “dilindungi.” Wow, betapa anehnya, mungkin kata anda, pembaca Kompasiana.

KTP di kita, sama dengan ID di Amerika Serikat. Selain ID yang dikeluarkan oleh DMV (Department of Motor Vehicle), semacam polisi lalu lintas di kita, SIM juga adalah ID. Kalau punya SIM, tak perlu harus punya KTP. SIM dianggap sekaligus KTP, tapi punya KTP tak berarti otomatis bisa dipakai sebagai SIM.

Kepimilikan KTP, tak diatur oleh UU Federal (pemerintah pusat), tapi berbeda dari satu “state” (negara bagian) ke “state” lainnya. Di Florida pemilik KTP palsu bisa dikenakan hukuman penjara selama 5 tahun dan denda sebanyak US$ 5 ribu (Rp65 juta). Di Louisiana tak masalah punya KTP palsu, tapi melanggar hukum bagi penjualnya. Sedangkan di Texas, pemilik KTP palsu melanggar hukum kalau menggunakannya, tapi penjual KTP palsu tak masalah, karena dianggap sebagai “souvenir.”

Masuk Kasino  

Kalau di kita, KTP palsu baiasanya dipakai untuk “menipu,” tapi di Amerika Serikat dipakai untuk berbagai hal. Untuk anak anak “bawah umur,”selain untuk beli minuman beralkohol atau rokok, dengan KTP palsu bisa masuk kasino atau bar. Tempat tempat ini hanya membolehkan orang dewasa usia di atas 21 tahun untuk masuk.

Mereka yang sudah tamat SMA, berusia 19 tahun dan bekerja 40 jam seminggu yang dikategorikan sebagai pekerjaan tetap, sehingga punya penghasilan rutin adalah kelompok yang “tergiur” untuk memiliki KTP dan SIM dengan identitas palsu. Uang punya, tapi tak boleh masuk kasino atau beli minuman keras atau beli rokok, akhirnya KTP palsu sebagai jalan keluar.

Untuk SIM, memang boleh memiliki yang asli ketika berusia 15 tahun, tapi harus didampingi atau disupevisi oleh orangtua sampai usia 17 tahun. Di beberapa “states,” hanya diperbolehkan mengendarai kendaraan sampai jam 12 malam kalau belum mencapai usia 21 tahun. Jadi, mengendarai kendaraan dari jam 24.00 tengah malam sampai pagi jam 6.00 dianggap melanggar hukum bagi mereka yang dibawah umur legal.

Beli Mobil Bekas Dan Senjata

Selain itu, mereka mereka yang “tak jelas” identitasnya atau mantan penjahat, memakai KTP palsu untuk beli mobil bekas, dan bahkan senjata api. Untuk dealers atau penjual senjata api skala kecil, mereka umumnya tak memiliki alat pengecek untuk menentukan keaslian KTP. Sehingga transaksi bisa mulus.

Apalagi penjual individu mobil bekas dan saat “gun show” atau bazaar senjata, biasanya pengecekan apakah KTP asli atau palsu agak longgar. Bisa gampang bagi yang punya identitas palsu untuk melakukan pembelian.

Cuma, ada beberapa dealers mobil dan penjual senjata api, terutama yang besar besar memiliki alat pengecek identitas. Ada dealer yang baik, kalau ketahuan KTP palsu, mereka hanya tak mau menjual dagangannya. Pemilik KTP palsu tak dilaporkan ke emaknya atau pihak berwajib.

Tapi, hati hati, ada pula dealer dan penjual senjata api yang segera melaporkan ke polisi, kalau ternyata calon pembeli memilili KTP palsu. Seandainya itu terjadi di Florida, bisa dihukum penjara sampai 5 tahun dan denda US$ 5 ribu. Habislah sudah riwayat pemilik KTP palsu!

Bekasi Dulu Di-bully, Sekarang?

Bekasi Dulu Di-bully, Sekarang?

Salam online para penghuni jagad maya di mana pun berada! Kalian pasti pernah pernah membaca, mendengar atau mengikuti meme-meme lucu tentang Bekasi baik itu di linimasa tiwtter, facebook, Istagram, path dan sebagainya. Bekasi di-bully netizen meskipun mungkin hanya sekadar lucu-lucuan saja tapi itu nyata dirasakan oleh warga Bekasi, sakitnya tuh di sini, hehehe. Saya ikut tersinggung meski saya bukan warga Bekasi. Tapi saya lebih banyak nyari duit di Bekasi.

Coba perhatikan kalimat-kalimat dan gambar “bullyan” di bawah ini:

“Di Bulan juga ternyata ada rambu-rambu yang menunjukkan kalau Bekasi terpisah dari Bumi.”

“Karena saking jauhnya, ada orang yang mesti naik pesawat Apollo buat ke Bekasi.”

foto kaskus
foto kaskus
foto kaskus
foto kaskus

Rata-rata bahan bully warga netizen adalah transportasinya yang terintegarasi, macet terutama di depan stasiun Bekasi Kota (bulan-bulan), tapi itu dulu. Nah, bagi para netizen di mana pun berada yang pernah “nge-bully” Bekasi ,siap-siap berubah pikiran sebab pelan tapi pasti Bekasi akan berbenah. Salah satunya moda transportasinya, warga Bekasi dan sekitarnya patut berbangga sebab Sabtu kemarin (7/10) telah diresmikan  alternatif lintas transportasi berbasis rel, yakni beroperasinya jalur/lintas Commuter Line yang akan menghubungkan Cikarang – Bekasi dan Jakarta. Selama ini jalur Commuter Line hanya sampai ke Stasiun Bekasi. Dengan adanya lintas baru ini, jalur ini akan warga Bekasi bisa menempuh perjalanan selain jalur Tol Becakayu yang sebentar lagi rampung. Untuk mendukung Lintas baru ini, dibangun stasiun-stasiun modern yakni, Stasiun Cikarang dan Bekasi Timur.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Stasiun Bekasi Timur. Stasiun yang letaknya tidak jauh dari terminal angkutan umum Bulak Kapal ini, bisa dibilang megah dan modern. Stasiun Bekasi Timur yang dibangun hasil kerja sama dengan pemerintah Jepang (JICA) dilengkapi dengan berbagai sarana dan fasilitas pendukung antara lain :

  1. Lahan parkir yang memadai,
  2. Peron sepanjang 270 meter yang mampu mengakomodir KRL dengan 12 kereta,
  3. Terpasang CCTV dan ticketing gate,
  4. Lift yang diprioritaskan bagi lansia dan penyandang disabiltas,
  5. Denah layout stasiun dan petunjuk jalur evakuasi.

Menurut data, lintasan Bekasi- Cikarang ini berjarak 16, 74 Km yang bisa ditempuh dalam waktu 21 menit selain itu frekuensi perjalanan KRL akan bertambah dan kapasitas angkut juga meningkat.

Rencananya, 32 kereta atau 16 perjalanan kereta (PP) akan melayani rute ini setiap hari dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Stasiun Cikarang ke Bekasi mulai pukul 05.05 WIB
  2. Kedatangan kereta terakhir di Stasiun Cikarang adalah pukul 23.45 WIB

Dengan adanya jalur atau lintas baru ini, dipastikan akan memudahkan  mobilisasi warga Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan sekitarnya dari dan ke Jakarta. Efek positifnya salah satunya menurunkan tingkat kemacetan di Cikarang, Bekasi, bahkan Jakarta. Titik-titik kemacetan di sepanjang Jalan Raya Bekasi ke Jakarta, misalnya Jalan Raya Kalimalang akan terurai.

Kita tahu jalur ini adalah jalur super duper padat, saban pagi dipenuhi ratusan pengendara motor yang datang dari arah Bekasi, ini tidak  bisa dipungkiri, merekalah (para pemotor) penyumbang terbesar masalah kemacetan di Jakarta dan daerah-daerah satelit lainnya, harapannya dengan adanya jalur kereta Cikarang-Bekasi-Jakarta akan menarik minat warga Bekasi khususnya warga Bekasi Timur dan Cikarang untuk memanfaatkan moda transportasi KRL tersebut, selain nyaman juga murah dan cepat!

Yuk naik KRL lebih mudah, cepat dan hemat! Mari warga Bekasi buktikan bahwa Bekasi juga bisa memiki stasiun keren

berikut tanggapan salah satu warga Bekasi dengan adanya lintas baru ini:

Dok.pribadi
Dok.pribadi
Menhub Budi Karya Sumadi Resmikan Stasiun Bekasi Timur (dokpri)
Menhub Budi Karya Sumadi Resmikan Stasiun Bekasi Timur (dokpri)
penampakan Luar St Bekasi Timur (dokumentasi Pribadi)
penampakan Luar St Bekasi Timur (dokumentasi Pribadi)
img-20171007-115509-59d977af79c3b112d77250b2.jpg
img-20171007-115509-59d977af79c3b112d77250b2.jpg
Tak Mampu Beradaptasi, Silahkan Kembali ke Zaman Batu

Tak Mampu Beradaptasi, Silahkan Kembali ke Zaman Batu

Teknologi akan terus berkembang selama manusia eksistensi di muka bumi ini. Mungkin kalimat tersebut mewakili apa yang dibenak Penulis bahwasanya teknologi terbaru akan terus bermunculan, sebagaimana inovasi-inovasi yang manusia kembangkan guna mempermudah kegiatan manusia sehari-hari pada bidangnya. Kemajuan teknologi yang mustahil terbendung ini menandakan “perubahan adalah sesuatu yang mutlak seiring majunya zaman”, oleh karena itu sebagaimana teknologi berkembang maka manusia modern dituntut untuk mampu beradaptasi dan mengantisipasi (sisi negatif) hadirnya teknologi baru kedepannya.

Salah satu penjajakan akan perkembangan teknologi internet yaitu dengan hadirnya jasa layanan penyedia transportasi berbasis online seperti UBER, Grab, dan Gojek yang tumbuh pesat di lingkup Ibukota DKI Jakarta. Walau demikian pamor jasa layanan transportasi daring bukanlah tanpa hambatan, tercatat beragam bentuk aksi penolakan terjadi dimana sebagian pihak merasa dirugikan (angkutan umum, ojek pangkalan, dan lain-lain) dengan kehadiran jasa layanan transportasi tersebut.

Terlepas dari polemik yang terjadi, nampaknya pihak-pihak yang merasa dirugikan tidak dapat berbuat banyak manakala masyarakat Jakarta mengapresiasi lebih hadirnya inovasi ini. Kemudian beberapa faktor eksternal turut serta mendorong tumbuh berkembangnya jasa layanan transportasi online, antara lain :

1. Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan bisnis.

2. Problematika kemacetan Jakarta yang tidak kunjung usai.

3. Minimnya kualitas dan layanan transportasi umum.

4. Jumlah yang fantastis pengguna internet dan perangkat mobile yang kian terjangkau.

Lalu pertanyaan terbesarnya apakah dengan realita yang sedemikian rupa (fenomena jasa layanan transportasi online) sebagai individu tetap akan menolak hadirnya teknologi baru?

Kita bisa amati bahwasanya perkembangan jasa layanan transportasi online di beberapa daerah mengalami penolakan selayaknya seperti apa yang terjadi sebelumnya di Jakarta. Konflik kepentingan dimana sumber mata pencaharian selalu dijadikan kambing hitam perebutan, tidak terimanya individu akan kemajuan teknologi sampai-sampai tidak mampu menahan emosi dan tak segan untuk beradu otot di jalanan.

Rongrongan akan bentuk keberpihakan selalu ditujukan ke pemerintah yang dinilai berat sebelah cenderung mendukung hadirnya inovasi. Lalu mengapa transportasi umum tidak berbenah dan mengejar ketertinggalan yang selama ini masyarakat keluhkan?

Pada hakikatnya antara transportasi umum dan hadirnya jasa layanan transportasi berbasis online dapat bergandeng tangan berjalan seiringan, dikarenakan kebutuhan akan moda transportasi (selain milik pribadi) tetap tinggi didasari bertambah terusnya populasi serta dibangunnya infrastruktur-infrastruktur baru dikemudian hari.

Dan tuntutan masyarakat akan layanan transportasi yang memadai dimana memenuhi aspek kenyamanan dan keamanan merupakan sesuatu yang perlu dicapai oleh bentuk moda transportasi apapun. Tuntutan tersebut akan terus meningkat manakala teknologi turut berperan dimana masyarakat juga menginginkan moda transportasi yang memadai serta dapat diakses dengan mudah dan cepat.

Hal tersebut seharusnya menjadi bentuk sadar diri bagi kita semua bahwasanya di masa depan pemahaman akan teknologi yang sedang diterapkan dan informasi up to date mengenai teknologi baru merupakan sesuatu yang wajib individu miliki. Siapa-siapa saja yang tidak mampu memahami teknologi maka ia akan tertinggal dan ia akan mengalami kesusahan dalam beradaptasi.

Kemudian perlu diingat bahwa akan adanya teknologi baru pasti akan membawa impact apakah itu positif maupun negatif, untuk meminimalisir dampak negatif dari teknologi maka negeri ini harus membudayakan diri untuk belajar bagaimana upaya untuk mengantisipasinya, jangan hanya menjadi negeri yang hanya bisa pakai teknologi saja. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

Setelah IQ, EQ, dan SQ, Kini Terbitlah DQ

Setelah IQ, EQ, dan SQ, Kini Terbitlah DQ

Kemarin, saat sedang berselancar di akun Instagram Hamish Daud (#eaaa), tak sengaja saya menemukan sebuah komentar netijen yang budiman. Posting yang dikomentari adalah serial foto saat Hamish mengajak Raisa untuk diving di masa bulan madu mereka.

Berikut komentarnya:

Skrinsyut
Skrinsyut

Jadi pengen nonjok nggak sih? Wkwkwkwk.

Di luar “maksud baik” pengirimnya (siapa yang tahu ya), ini hanya contoh kecil bagaimana kita kurang bisa menempatkan diri di dunia internet (dan secara lebih luas di dunia digital). Bukan hanya tidak sopan, ujaran tersebut juga merangsek ke wilayah privat yang seyogyanya tidak kita urusi.

Etika komunikasi dunia siber
Istilah dunia maya untuk mewakili internet menurut saya kurang pas. Dunia maya itu dunia seperti dunia game MMROG (massively multiplayer online games). Dunia seperti MMOG itu adalah dunia virtual, cocok disebut maya, karena memang diciptakan dunianya, karakternya, hingga visi dan misinya.

Menganggap bahwa dunia internet adalah dunia maya sedikit banyak mempengaruhi kita dalam menggunakannya dan berinteraksi di dalamnya. Saya cenderung menyebutnya dunia siber (cyberspace), dan tetap menganggapnya dunia nyata karena di dalamnya saya temui mereka-mereka yang memang ada di dunia ini. Hal ini sungguh membantu dalam meredam segala bentuk keinginan sesaat terbalut emosi tanpa penelitian mendalam (halah) untuk ngeshare, komen, atau menulis sesuatu. Godaannya memang berat. Heu.

Ragam etika komunikasi dunia siber ini sudah banyak diulas. Tak terbatas pada bagaimana berkomentar atau berdiskusi, juga ke hal-hal resmi dan profesional seperti mengirim lamaran pekerjaan atau berkirim surel pada dosen. Yakali kirim surel ke dosen pake wkwkwkwk.

Fenomena ini terjadi seiring dengan perkembangan dunia digital dan bagaimana kita mengadopsinya. Dan karena itulah muncul juga pemikiran-pemikiran dan implementasi mengenai perlunya digital quotient (DQ), sebuah kompetensi terkait dunia digital.

Dulu segmented, kini menjadi “keharusan”
Setidaknya hingga 10 tahun yang lalu, hal-hal yang berhubungan dengan dunia digital dan IT itu adalah sebuah ranah yang spesifik, dengan profesi yang dijalani oleh mereka-mereka yang ahli pula. Kini, hampir semua sisi kehidupan kita berhubungan dengan itu; dari model dan sistem pendidikan, cara belanja, moda transportasi, hingga perbankan. Sekolah dari tingkatan terendah, sudah memasukkan pembelajaran digital dan multimedia pada murid-muridnya.

Iya, Generasi Z adalah generasi yang sepenuhnya terekspos pada dunia digital; karenanya mereka disebut digital natives. Tahun kelahiran Generasi Z ini masih menjadi perdebatan terbuka, namun di sini saya sebut sebagai mereka yang lahir setelah tahun 1996. Generasi Z tertua di tulisan ini berarti hampir atau sudah lulus kuliah.

Permasalahan dari dunia digital dan IT ini dan generasi kita adalah laju perkembangan yang tak seimbang. Ibaratnya dunia digital dan IT berkembang secara eksponensial, sementara kemampuan kita generasi sebelum Generasi Z mengikutinya barangkali linear. Banyak dari kita yang tidak mengenal internet sampai usia dewasa dan paruh baya. Saat itu, kemampuan kita mengikuti teknologi juga mulai melambat, mikir aja kadang ngos-ngosan, cyin.

Keterbatasan untuk mengikuti perkembangan dunia digital yang super cepat itulah yang sering menjerumuskan kita dalam perilaku-perilaku kurang berfaedah, baik soal etika, keseringan online, keamanan, hingga critical thinkingWorld Economic Forum dalam beberapa riset, artikel, dan inisiatifnya terkait DQ memetakan apa saja kompetensi yang seharusnya diajarkan dan dikenalkan pada anak terkait “kewarganegaraan digital” mereka. Peta yang menurut saya juga berlaku untuk kita semua, tak peduli generasi apa.

DQ menurut riset World Economic Forum (kredit foto: weforum.org)
DQ menurut riset World Economic Forum (kredit foto: weforum.org)

Peta ini sungguh mencerminkan permasalahan yang sering kita bahas terkait dunia digital. Dimulai dari yang paling dasar, identitas. Dunia digital memang “menyarukan” identitas. Kita tentu masih ingat dengan Saracen. Kita juga “kenal” dengan Buni Yani dan Jonru. Baik anonim atau bernama, keberadaan kita dunia digital hendaknya dikelola dengan sehat dan dengan integritas. Untuk anak-anak, mengajarkan bahwa mereka juga menjadi warga negara digital ini penting untuk membangun etika, perilaku yang baik, dan menjaga keamanan mereka. Secara lebih jauh, ini berkaitan erat dengan menjaga privasi dan mengelola jejak alias footprint. Zaman now juga adalah zaman skrinsyut, cyin. Yang kita ucapkan seabad lalu saat masih cupu bisa jadi “senjata” orang lain untuk menyerang kita di masa kini.

Kecerdasan digital ini juga meliputi empati digital dan perisakan siber (cyberbullying). Memahami perasaan dalam interaksi langsung saja sering kedodoran, apalagi ini di ranah digital yang sering singkat, tidak bernada, bahkan tanpa titik koma. Kayaknya lebih mudah menerjemahkan gerakan buntut kucing dibanding memahami perasaan warganet dan berempati pada mereka. Heu. Karena sulit dilakukan inilah, kesalahpahaman dan perisakan siber sering terjadi. Berempati aja susah, makanya menahan diri untuk nggak nyinyir juga sama susahnya.

Poin tak kalah penting, bahkan menurut saya paling penting, dari keberadaan kita di dunia digital adalah mengenai pemikiran kritis (critical thinking). Dalam definisinya, WEF menyebutkan pemikiran kritis ini meliputi kemampuan membedakan informasi benar dan salah, konten yang baik dan mengancam, serta kontak yang dapat dan tidak dapat dipercaya di komunikasi daring. Sudah cukup sering kita mendapat brodkes informasi kurang diyakini kebenarannya di WAG, mudah mempercayai sumber tanpa ricek-ricek-ricek, hingga kasus-kasus penipuan cinta di berbagai media sosial yang melibatkan uang. Kita yang sudah dewasa (asumsinya) saja bisa terjebak, apalagi anak-anak?

DQ ini dimensi yang jelas dan juga memiliki alat ukur, dan sebagaimana layaknya alat ukur lainnya; bisa saja tidak mewakili kondisi sesungguhnya atau menyatakan secara pasti bahwa skor rendah sama dengan apa. Lepas dari itu, menyadari bahwa dalam perkembangan teknologi yang pesat dan bergeraknya sistem dunia ke arah sana, mau tak mau kita harus memikirkan kompetensi dan model kecerdasan digital yang relevan. Baik relevan dengan kita sendiri juga dengan generasi selanjutnya, anak-anak dan cucu-cicit. Saya tak bisa menyalahkan para orangtua yang “alergi” dengan teknologi, melarang anaknya untuk sama sekali tak memegang hape atau tablet; mengingat banyaknya dampak negatif yang muncul di dunia digital. Dari sudut pandang perlindungan anak, kita seyogyanya juga mempertimbangkan bahwa anak-anak itu (dan kita!) akan menjadi warga negara digital. Dan menghadapi sekian banyak tantangan dunia digital yang tak terhindarkan ini (kecuali mau tinggal di pedalaman hutan), kita harus menyesuaikan.

Selamat datang, DQ.

Perlukah Kita Belajar Memakai Sumpit?

Perlukah Kita Belajar Memakai Sumpit?

Era yang serba modern saat ini, makan menggunakan sumpit bukan hal yang istimewa lagi. Sendok, garpu, adalah alat makan yang mengeser kebiasaan makan dengan tangan. Tanpa harus repot mencuci tangan, penggunaan alat makan seperti sendok dan garpu dianggap paling pas sebagai penggantinya. Lalu, kamu termasuk pengguna alat makan yang mana?

Dulu sekali, saat melihat orang makan memakai sumpit sungguh sangat keren. Setelah di coba ternyata tidak segampang jika melihat orang lain memakainya. Dan yang pasti, jenis makanan kita sangat kurang cocok jika memakai sumpit, cukup menggunakan tangan atau sendok biasa untuk menikmatinya.

Kalau di rumah orang tua, masih menggunakan tangan saat makan hanya bapak dan ibu, yang lain memilih alat yang praktis yaitu sendok. Beda dengan di Kota, makan menggunakan tangan hanya pada menu tertentu saja. Contoh makan pecel lele, akan lebih nikmat jika memakai tangan untuk menyantapnya. Kalaupun nekat pakai sumpit, mustahil juga kami bisa menikmatinya.

Sebagian orang menggangap makan menggunakan sumpit sangat merepotkan. Mungkin kamu termasuk  tidak bisa memakai sumpit? jika iya, tidak ada salahnya belajar dari sekarang, mana tau suatu saat harus menggunakan alat tsb.

Saat ini, penggunaan sumpit sendiri selain di restoran Jepang, Taiwanserta beberapa masakan khas luar sepertinya tetap menggunakan alat makan berupa sendok dan garpu. Untuk makanan Jepangmemang cocok jika memakai sumpit, kalau menu makanan kita paling jenis makanan yang berbentuk mie saja.

Seperti menghabiskan semangkuk mie ayam akan lebih nikmat memakai sendok dan garpu, karena ada daging di dalamnya. Namun sekarang, banyak disediakan sumpit untuk pilihanya. Banyak pilihan, namun harus tetap memilih yang cocok untuk kita gunakan. Jangan memaksakan juga memakai sumpit jika tidak mahir, nanti malah hilang selera makanya. Betulkan!

Di beberapa kesempatan, ketika ada jamuan makan dari perusahaan, menunya pasti masakan Jepang, penggunan sumpit seolah menjadi hal yang wajib. Banyak rekan kerja tidak dapat memakai sumpit dengan baik, mereka cenderung sangat hati-hati karena mungkin khawatir makanan akan jatuh saat diambil atau ketika mau memakanya. Duh repotkan kalau begitu.

Ketika kita tidak dapat memakai sumpit dengan baik, makanan seolah hanya sebuah hidangan yang tak memiliki rasa. Kenapa harus malu memakai sendok atau garpu, mungkin terasa janggal, tapi toh tidak ada yang melarang. Kalau saya tidak akan memaksa diri, pernah juga minta sendok saat makan menu masakan Jepang, malu juga sih hahaha….tapi lihat-lihat kondisilah, bila bersama tamu sebaiknya dihindari.

Penggunaan sumpit yang salah, malah akan membuat kita malu sendiri. Coba kalau lagi asik makan bakso, tetiba baksonya mengelinding, bisa dibully sama teman seumur hidup hehehe…. Tidak ada salahnya juga kita mempelajari bagaimana cara makan memakai sumpit yang benar, hanya perlu waktu beberapa menit saja, yang terpenting paham teorinya.

Belajar Memakai Sumpit

Gambar|Livejapan.com
Gambar|Livejapan.com

Saya sendiri tidak begitu lihai memakai sumpit saat makan, hanya tuntutan budaya sehingga mau tak mau harus belajar. Masih sangat ingat saat pertama kali belajar menggunakan sumpit, media yang saya gunakan yaitu kacang yang diletakan di dalam mangkuk. Awalnya sangat sulit, karena cara peletakan sumpit di jari salah, lama-lama bisa juga. Untuk cara memegang sumpit yang benar bisa di cari lewat internet.

Untuk melatih memakai sumpit, dulu hampir tiap hari saya buat mie instan (Mie goreng), bosan juga tapi karena ingin cepat bisa ya dilakukan. Jika masih sering jatuh atau meleset dari pegangan sumpit, itu artinya perlu latihan terus-menerus. Tidak perlu waktu berbulan-bulan juga, hitungan hari bila serius mau belajar pasti bisa. Silahkan latihan seperti saya, beli indomie satu kardus buat latihan, di jamin belum habis satu kardus pasti sudah bisa menggunakanya dengan lancar.(Serius)

Memilih Sumpit yang Aman

Gambar|Imgrum.org
Gambar|Imgrum.org

Tidak semua tempat makan menyediakan sumpit sebagai alat untuk makan. Terkadang ada yang menyediakan, namun fungsinya sudah seperti sendok, “selesai cuci pakai lagi.” Sebaiknya memilih sumpit yang memang kondisinya masih baru alias masih terbungkus plastik.

Memilih sumpit yang masih baru tentu dengan pertimbangan yang matang, salah satunya soal kesehatan. Biasanya sumpit yang terbuat dari bambu atau kayu, hanya digunakan sekali, setelah itu dibuang. Akan lebih baik hindari sumpit tanpa bungkus plastik atau yang sering digunakan berulang kali.

Mengenai pemakaian sumpit, bukan bermaksud menggurui juga, karena faktanya sering saya saksikan banyak orang yang tidak paham dalam memakai sumpit. Mungkin karena alasan tadi, banyak alternatif selain harus memakai sumpit, tapi lain cerita kalau tidak ada sendok selain sumpit sebagai alat untuk makan. Tergantung jenis makananya juga, bila berkuah tentu tidak bisa juga memakai tangan untuk menyantapnya.

Saya ada cerita sedikit, minggu yang lalu saya mengikuti training di luar yang berhubungan dengan pekerjaan. Makan siang di sediakan oleh tuan rumah, kebetulan menu saat itu Bento (masakan Jepang). Seperti biasanya masakan Jepang, tidak menyediakan sendok atau garpu kecuali jika makan di restoran.

Hanya sumpit tok loh, nggak ada yang lain, iseng memperhatikan rekan-rekan peserta training makan. Ternyata hampir semua peserta cara memegang sumpitnya kurang tepat seperti yang saya tau. Banyak orang beranggapan bahwa, mempelajari cara memegang atau memakai sumpit tidaklah penting, namun ternyata pada suatu kesempatan tertentu, kita dihadapkan pada situasi yang tidak pernah kita pikirkan selama ini, yaitu makan memakai sumpit.

Tidak ada salahnya mempelajari bagian dari table manner, karena kita tidak tahu kapan dan di mana akan menjamu atau dijamu oleh orang lain. Saya yakin kamu bakal menemukan sensasi berbeda jika mahir dalam memakai sumpit, buktikan dan rasakan.

Merpati Dulu, Kini dan Nanti

Merpati Dulu, Kini dan Nanti

Bulan September atau bulan ke-9 dalam siklus kalender masehi, dimana 55 tahun yang lalu berdasarkan Peraturan Pemerintah (“PP”) Nomor 19 Tahun 1962, tanggal 6 September 1962 dibentuklah Perusahaan Negara (PN) Merpati Nusantara, bermodalkan Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dengan mengandalkan empat pesawat jenis Twin Otter (DHC) dan dua pesawat Dakota DC-3 milik AURI menjelajahi daerah-daerah terpencil di Kalimantan, Jakarta, Semarang, Tanjung Karang.

Penambahan tiga pesawat DC-3 Dakota, dua Twin Otter dan satu Beaver serta pengalihan pesawat lainnya eks maskapai Belanda NV de Kroonduif dari Garuda Indonesia kepada Merpati menandai ekspansi penerbangan ke Papua, Sumatera dan Nusa Tengara Barat, selanjutnya Merpati membagi daerah operasi penerbangannya menjadi Operasi MIB (Merpati Irian Barat) dan Operasi MOB (Merpati Operasi Barat) yang meliputi Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Sembilan tahun kemudian, Merpati mengalami perubahan status dari Perusahaan Negara (PN) menjadi Perseroan Terbatas (PT) Merpati Nusantara Airlines (“MNA”) pada tanggal 6 September 1971, berdasarkan PP Nomor 70 Tahun 1971. Dengan badan hukum ini MNA merintis penerbangan haji dan transmigrasi, disamping membantu pariwisata dengan melakukan penerbangan charterinternasional Manila-Denpasar pp menggunakan pesawat BAC-111 dan Los Angeles-Denpasar pp menggunakan pesawat Boeing 707.

MNA memperoleh tambahan 14 armada jenis C-212 sembilan tahun kemudian (1980), dari pemerintah yang diikuti dengan pembangunan pusat perawatan pesawat di Makassar dan Manado untuk memperkuat networkingdi Indonesia Timur. Pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh enam, penandatanganan serah terima pesawat pertama CN235 sekaligus meresmikan penggunaan logo MNA baru, dilukiskan sebagai gelombang angin yang dimaknai sebagai jembatan udara.

Sumber: https://fikrisjourney.blogspot.co.id
Sumber: https://fikrisjourney.blogspot.co.id

Pada tahun 1989 (sembilan tahun kemudian) MNA merekrut awak kokpit, awak kabin, teknisi dan petugas operasi darat (Flight Operations Officer) dan pegawai lainnya untuk menyiapkan Operasi Terpadu MNA dan GIA dengan mengoperasikan pesawat tipe DC-9 dan F-28, diikuti dengan kehadiran F-100 dan B-737.

Hampir mendekati sembilan tahun kemudian, pada tanggal 29 April 1997 pemerintah mengeluarkan PP Nomor 10 Tahun 1997 tentang pemisahan PT. Merpati Nusantara Airlines dari PT. Garuda Indonesia Airways. Setelah itu, MNA secara mandiri mengoperasikan sembilan tipe pesawat dalam operasi penerbangannya dengan menggunakan B737, F100, DC9, F28, ATP, F27, CN235 dan C212 serta DHC6.

Pada tahun 1995-1999 Merpati mengoperasikan tipe pesawat A310 dan A300-600 untuk menjelajah rute internasional ke Australia. Dan akhirnya mengoperasikan pesawat Tristar untuk menggantikan pesawat A310. Dan juga sempat mengoperasikan tipe pesawat BAe-146.

Hingga akhirnya MNA menghentikan kegiatan operasionalnya pada tanggal 1 Februari 2014 untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi, sekaligus melakukan transformasi bisnis dari perusahaan single business menjadi perusahaan multi business dengan melahirkan anak perusahaan yaitu PT Merpati Maintenance Facility dan PT Merpati Training Center dan beberapa anak perusahaan yg akan didirikan kemudian.

Sepenggal  kisah  perjalanan  singkat  MNA  diatas,  seperti  nya  mirip  dengan  konsep  RESHAPE  or

CREATE yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption (2017):

Kisah kematian atau memudarnya perusahaan-perusahaan tua bukanlah hal baru bagi kita. Namun, pada era“akhir zaman”, kisah sedih kematian perusahaan yang telah menjadi sumber kehidupan banyak orang menjadi komunitas hidup yang memberi harapan dan kebahagiaan akan semakin banyak kita dengar. Dan sudah pasti, walaupun kantor induk mereka berada nun jauh di seberang sana, dampaknya akan terasa hingga ke kota-kota Anda. Namun, sebenarnya perusahaan-perusahaan tua itu memiliki pilihan: RESHAPE or CREATE. Mereka bisa membentuk ulang perusahaan atau menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang sudah ada pada masa lalu”.

Demikian renungan perjalanan hidup nostalgia “perusahaan tua” yang pada tanggal 6 September 2017 genap berusia 55 tahun. Haruskah kita menunggu sembilan tahun lagi? Atau bahkan lebih cepat? Kita doakan yang terbaik, agar PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) dapat segera Hadir Untuk Negeri!

Jelang Resepsi Kedua, Laudya Cynthia Bella Terharu Baca Ini

Jelang Resepsi Kedua, Laudya Cynthia Bella Terharu Baca Ini

Jakarta – Satu bulan setelah melangsungkan pernikahan di Malaysia, Laudya Cynthia Bella dan Engku Emran bakal menggelar resepsi di Tanah Air. Tepatnya pada Minggu (8/10/2017) di Bandung, Jawa Barat.

Jelang momen resepsi keduanya, Laudya Cynthia Bella malah dibuat berkaca-kaca oleh pesan dari Melly Goeslaw. Sejatinya pesan itu ditulis Melly tepat satu hari setelah Bella dan Emran resmi menikah.

Namun, wanita berusia 29 tahun itu tampaknya baru sempat memberikan responnya. Dalam pesannya, Melly Goeslaw mengungkapkan kesedihannya melepas Laudya Cynthia Bellayang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri untuk menikah.

Melly tahu persis bagaimana perjalanan cinta Bella yang penuh liku selama ini. “Perjalanan cintamu yang terlalu kejam dan sangat menyakitkan, sampai ibu sendiri merasa tak sanggup rasanya jika hal itu menimpa ibu. Tp kamu selalu hadapi dengan senyum meski saat kita bicara berdua sering kamu tak kuasa menahan tangis,” katanya.

Istri Anto Hoed itu bersyukur Laudya Cynthia Bella kini sudah menemukan sosok pria yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. “Inilah hadiah dari Allah seorang lelaki beriman, dan gadis kecil yang sangat mencintaimu,” sambung Melly.

Selayaknya seorang ibu, Melly Goeslaw juga menyampaikan pesan untuk Engku Emran. Ia berharap Emran bisa menjaga Bella dari segala hal buruk.

Teruntuk @iamkumbre cintailah anak ku bukan sbg Laudya Cynthia Bella, bukan krn dia cantik, bukan karna dia berkarier sukses, cintailah dia karena memang dia yang Allah pilih untuk kamu. Jaga baik2 anugerah indah ini,” katanya.

Pesan dan nasihat yang disampaikan Melly Goeslaw ini pun sukses membuat Laudya Cynthia Bellamengharu biru. “#loveyouibu @melly_goeslaw !! “Kata-kata yang sangat menyentuh!” ungkap Bella.